RawdahQR

Apa Itu Rawdah Permit dan Padanannya dalam Bahasa Kita

Ditulis Tim RawdahQR · 16 September 2026

Begini biasanya ceritanya. Seorang jamaah membuka aplikasi dan menemukan kata permit. Sorenya, di grup rombongan, pembimbing menyebut tasreh. Malamnya, seorang kerabat mengirim pesan yang menyarankan agar segera mengurus izin Rawdah. Tiga kata, dalam satu hari, dan tidak ada yang menjelaskan hubungan di antara ketiganya.

Maka muncullah pertanyaan yang sangat masuk akal: apakah saya perlu mengurus tiga hal? Jawabannya tidak. Ketiganya adalah satu benda yang sama, hanya disebut dalam tiga bahasa yang berbeda. Artikel ini kami tulis untuk menuntaskan kebingungan itu sampai ke akarnya.

Satu benda, tiga bahasa

Mari kita pisahkan asal-usul katanya supaya terang.

Permit adalah kata Inggris. Ia muncul karena antarmuka aplikasi dan dokumen layanan pemerintah Arab Saudi menyediakan versi berbahasa Inggris, dan versi itulah yang paling banyak dilihat orang.

Tasreh berasal dari bahasa Arab, dari kata yang ditulis تصريح. Kata ini dipakai sehari-hari di Madinah dan lazim terdengar dari pembimbing maupun petugas di lapangan.

Izin adalah padanan Indonesianya, dan sesungguhnya inilah kata yang paling jelas bagi kita.

Jadi bila Bapak atau Ibu membaca panduan yang menuliskan “ajukan permit dulu” dan panduan lain yang menuliskan “urus tasreh dulu”, keduanya menyuruh mengerjakan hal yang persis sama. Tidak ada dua pendaftaran, tidak ada dua antrean, dan tidak ada dua biaya.

Kekeliruan ini bukan hal sepele. Kami pernah menemui jamaah yang sudah memegang izin yang sah, lalu tetap berusaha mencari cara memperoleh “tasreh” karena mengira dokumennya belum lengkap. Kondisi seperti itulah yang justru membuka celah bagi pihak yang ingin memanfaatkan kebingungan orang.

Nama resmi layanannya

Supaya tidak sekadar mengandalkan istilah percakapan, ada baiknya kita mengenali nama resmi layanannya. Penerbitan izin kunjungan Rawdah merupakan layanan di bawah Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, dan pada daftar layanannya tercatat sebagai penerbitan izin Rawdah Sharif, dengan dua layanan yang dipisahkan: satu untuk pria dan satu untuk wanita.

Penerbitannya dilakukan melalui platform Nusuk, baik lewat aplikasi maupun situsnya. Pada halaman layanan resmi tersebut, kolom biayanya tertulis Free. Artinya sederhana: pemerintah Arab Saudi tidak memungut bayaran untuk menerbitkan izin ini.

Ada satu lembaga lain yang sering tertukar dengan kementerian tadi, yaitu Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Lembaga inilah yang mengatur tata tertib di dalam area Rawdah: alur pergerakan jamaah, pengaturan giliran, dan ketentuan di lapangan. Jadi satu lembaga mengurus perizinannya, lembaga lain mengurus ketertiban di dalamnya.

Rawdah, Al-Rawdah Al-Sharifah, Riyadhul Jannah

Nama tempatnya pun punya beberapa versi. Dalam dokumen resmi, area ini disebut Al-Rawdah Al-Sharifah, yang sering dipendekkan menjadi Rawdah saja. Di Indonesia, banyak yang menyebutnya Riyadhul Jannah, mengikuti bunyi hadits mengenai keutamaannya.

“Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Yang perlu dicatat, Riyadhul Jannah adalah istilah percakapan dan bukan nama layanan. Bila Bapak atau Ibu mencari menu bernama Riyadhul Jannah di aplikasi, menu itu tidak akan ditemukan. Yang dicari adalah layanan izin Rawdah.

Secara tempat, area ini membentang antara rumah Nabi ﷺ — yang kini menjadi makam beliau — dan mimbar beliau, dengan luas sekitar 330 meter persegi atau kira-kira 22 meter kali 15 meter. Angka itu penting untuk disadari, sebab dari situlah semua pengaturan perizinan bermula.

Wujud izinnya seperti apa?

Banyak yang membayangkan izin ini berupa surat atau kartu yang dicetak. Kenyataannya bukan. Bukti izin berbentuk kode QR atau barcode digital yang tersimpan di aplikasi Nusuk, dan kode itulah yang ditunjukkan untuk dipindai petugas di pintu. Tanpa kode yang terbaca, jamaah tidak dilewatkan.

Ada dua sifat kode tersebut yang perlu dipahami sejak awal:

  • Terikat pada satu janji temu. Kode itu melekat pada satu jadwal tertentu, bukan berlaku bebas kapan saja.
  • Sekali pakai. Setelah dipindai, ia sudah menunaikan tugasnya. Kunjungan berikutnya memerlukan izin baru.

Rincian tampilan layar yang memuat kode ini, beserta kata-kata Inggris yang mengelilinginya, kami uraikan terpisah pada tulisan tentang cara membaca rincian janji temu di aplikasi Nusuk.

Bingung menerjemahkan satu kata di layar?

Kirimkan saja potongan layarnya. Kami bantu menerjemahkan istilahnya dan menjelaskan apa yang sebenarnya diminta aplikasi. Bertanya tidak dipungut biaya dan tidak ada kewajiban melanjutkan ke layanan berbayar.

Tanya Dulu via WhatsApp

Izin itu melekat pada orangnya

Sifat berikutnya yang sering luput: izin Rawdah bersifat pribadi. Ia terikat pada identitas atau paspor pemegangnya dan tidak dapat dipindahtangankan. Maka satu rombongan yang terdiri dari sepuluh orang memerlukan sepuluh izin atas nama masing-masing, bukan satu izin kolektif yang dibawa ketua rombongan.

Konsekuensi praktisnya terasa pada keluarga. Suami dan istri tidak akan berada pada sesi yang sama, karena waktu kunjungan pria dan wanita memang dipisah. Bila membawa orang tua atau anak, rencananya perlu disusun lebih awal; pembahasan khusus mengenai hal itu ada pada tulisan tentang kunjungan bersama anak.

Dua istilah yang sering disalahkaitkan dengan permit

Visa umrah

Visa adalah izin memasuki wilayah negara dan diurus jauh sebelum keberangkatan, umumnya melalui penyelenggara perjalanan. Ia berbayar. Izin Rawdah adalah urusan yang lain sama sekali dan tidak dipungut biaya. Mencampur keduanya membuat orang mengira sudah membayar untuk sesuatu yang sebenarnya tidak berbayar. Pemisahan lengkapnya kami bahas pada tulisan mengenai izin Rawdah bagi pemegang visa umrah.

Tasreh kolektif

Istilah ini kerap muncul dalam percakapan mengenai jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan per kelompok terbang. Alurnya berbeda dari alur umrah perorangan. Karena itu, keterangan yang benar untuk satu alur belum tentu berlaku untuk alur yang lain.

Kata lain yang biasanya menyusul

Setelah kata permit dipahami, biasanya muncul dua kata berikutnya. Instant track, yang padanannya Jalur Instan, adalah jalur yang tidak terikat pembatasan frekuensi pemesanan reguler; syaratnya pemohon harus sedang berada di Kawasan Pusat Madinah, sehingga tidak dapat dipakai dari tanah air maupun dari Makkah. Lalu waiting list atau daftar tunggu, yaitu fitur untuk mendaftar ketika sesi penuh agar memperoleh pemberitahuan bila ada tempat yang kembali kosong. Perlu ditegaskan, daftar tunggu di sini tidak ada kaitannya dengan daftar tunggu keberangkatan haji yang berhitung tahun.

Yang tidak bisa diperjualbelikan

Karena izinnya diterbitkan tanpa pungutan, tidak ada barang yang bisa dijual di sini. Petugas haji Indonesia pernah mengeluarkan peringatan mengenai tautan palsu yang mengatasnamakan Nusuk dan disebarkan lewat pesan WhatsApp, dengan dalih ada masalah pada kartu Nusuk jamaah. Imbauannya jelas: jangan percaya dan jangan buka tautannya. Pemerintah Indonesia pun menegaskan akses Rawdah tidak berbayar dan meminta jamaah melaporkan siapa pun yang memungut bayaran atas akses tersebut.

Kebiasaan yang paling aman sederhana saja: ketik sendiri alamat nusuk.sa di peramban, atau buka aplikasi yang sudah terpasang di ponsel. Jangan menempuh jalan pintas lewat tautan kiriman orang.

Perlu diingat pula bahwa ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu. Sebelum berangkat, pastikan memeriksa kembali keterangan yang ditampilkan aplikasi Nusuk terbaru, sebab itulah rujukan yang paling mutakhir.

Ingin ditemani dari awal sampai kodenya terbit?

Kami menemani jamaah memahami setiap layar, mulai dari menyiapkan akun pengunjung sampai membaca rincian janji temu. Penerbitan izinnya tetap berjalan di Nusuk tanpa pungutan dari pemerintah Arab Saudi; yang kami tawarkan adalah pendampingannya. Ceritakan dulu rencana perjalanan Bapak dan Ibu.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

WhatsApp